Friday, February 9, 2018

Perlawanan Terhadap Persekutuan Dagang

1. Perlawanan Sultan Baabullah Mengusir Portugis
Ketika Portugis datang ke Maluku, terjadi perang antara Kerajaan Tidore dengan Portugis pada tahun 1529. Perang ini disebabkan karena Portugis menghalangi pedagang dari Banda yang akan berdagang dengan Tidore. Armada kapal Portugis selalu menembaki perahu (jung-jung) dari Banda yang mau membeli cengkeh dari Tidore. Merasa tidak nyaman dengan perlakuan kapal-kapal Portugis tersebut kemudian Tidore melakukan perlawanan kepada Portugis. Tetapi Portugis melakukan politik adu domba antara Kerajaan Ternate dan Tidore, selain itu Portugis juga mendapatkan dukungan dari kerajaan Bacan. Dan akhirnya Portugis meraih kemenangan atas Tidore.
Tapi tidak lama kemudian rakyat kerajaan Ternate menyadari bahwa kedatangan Portugis hanya merusak perdamaian yang sudah ada. Sultan Hairun sebagai Sultan Kerajaan Ternate berhasil mempersatukan Maluku untuk bersama melakukan perlawanan kepada Portugis pada tahun 1565.  Pada perlawanan itu menyebabkan keadaan Portugis semakin terdesak dan Portugis memberikan penawaran untuk melakukan perundingan. Sultan Hairun menerima tawaran kunjungan itu karena beliau merupakan raja yang cinta damai.
Selanjutnya perundingan dilaksanakan di benteng Sao Paulo pada tahun 1570, tetapi Portugis melakukan cara curang Dengan menangkap dan membunuh Sultan Hairun pada saat perundingan dilaksanakan. Kecurangan dan kelicikan Portugis itu memunculkan kemarahan yang luar biasa dari rakyat Maluku. Putra Sultan Hairun yang bernama Sultan Babullah meneruskan perjuangan ayahnya memimpin perlawanan terhadap Portugis. Dan Portugis terus terdesak sampai akhirnya pada tahun 1575 mereka berhasil diusir dari Ternate dan melarikan diri ke Ambon.
Selanjutnya Portugis terpaksa meninggalkan Ambon karena diusir oleh VOC tahun 1605 dan seterusnya menguasai Timor Timur dan menjajah di sana.

2. Perlawanan Kesultanan Aceh
Sultan Iskandar Muda dari Aceh telah mempersiapkan armadanya untuk menyerang Portugis di Malaka. Pada waktu itu sebanyak 800 prajurit dikerahkan untuk menyerbu Portugis. Tepat pada tahun 1629 serangan dilakukan tetapi Aceh masih mengalami kegagalan untuk menaklukkan Portugis. Tetapi meskipun begitu, Aceh tetap menjadi kesultanan yang merdeka.

3. Perlawanan Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin merupakan Sultan dari Kerajaan Gowa di daerah Sulawesi Selatan. Dia adalah pejuang yang gigih dan sangat diperhitungkan oleh VOC,  Maka dari itu dia diberi julukan  “Ayam Jantan dari Timur”. Tetapi dengan menggunakan politik memecah belah VOC berhasil mengadu domba antara Kerajaan Gowa dan Bone yang dipimpin oleh Arung Palaka.  VOC memberikan dukungan kepada Bone sehingga Sultan Hasanudin mengalami kekalahan dan dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. sebagian isi dari perjanjian tersebut sangat merugikan Kerajaan Gowa,  yaitu sebagai berikut :
a. VOC bisa mendirikan benteng di daerah Makassar
b. VOC mendapat Hak monopoli dagang komoditi rempah-rempah di Makassar
c. Makassar harus melepaskan daerah kekuasaannya
d. Makassar harus mengakui Arung Palaka sebagai Raja Bone
Dengan adanya perjanjian itu kawasan Sulawesi Selatan terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil yang lemah dan sulit melakukan perlawanan kepada VOC.

2 comments:

  1. Berguna sekali untuk tugas IPS soalnya mudah dipahami singkat dan jelas terimakasih bantuannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mengerjakan PR telah membantu saya membuat kliping IPS

      Delete

Blog Saya Yang Lain